Lembaga Kebudayaan UMM Malang Luncurkan Buku Motif dan Corak Batik Jawa Timur

Festival Batik Jatim 2014. (Foto: UMM Malang)
KOMITMEN – Festival Batik Jatim 2014 digelar sebagai komitmen pada pelestarian nilai-nilai lokal batik Jawa Timur. (Foto: UMM Malang)

Malang, MALANG DAILY ** Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) menggelar peluncuran buku Motif dan Corak Batik Jawa Timur bersamaan dengan Festival Batik Jawa Timur (Jatim), Jumat-Minggu (24-26/10/2014). Buku yang diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, ini adalah bentuk komitmen LK UMM dalam menjaga nilai-nilai lokal batik Jatim.

“Sebenarnya buku batik sudah banyak, tapi buku yang mengupas secara detail kekhasan batik Jawa Timur belum ada. Kebanyakan masih bersifat umum,” terang Kepala LK UMM, Sugiarti.

Ia menjelaskan, festival kali ini sengaja difokuskan pada batik tulis agar metode ini bisa terus dilestarikan desainer batik di Jawa Timur.

“Semula festival ini ingin kita perluas se-Jawa Bali, namun karena di Solo dan Jogja sudah banyak menggunakan batik cap dan printing, maka sengaja kami fokuskan di Jatim, agar kearifan lokalnya lebih kuat,” ujarnya.

Selain faktor lokalitas, Sugiarti menilai, batik tulis juga memiliki daya tarik tersendiri, karena warnanya lebih tajam dan motifnya lebih beragam.

“Meskipun harga jualnya lebih mahal, namun batik jenis ini justru pangsa pasarnya bisa lebih luas, karena terkesan lebih unik dan orisinal. Orang-orang Eropa lebih suka batik jenis ini,” terangnya.

Pemilik Motif Terbanyak

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim, Nina Kirana Soekarwo, menyebutkan, Jatim merupakan pemegang rekor MURI sebagai pemilik motif batik terbanyak, yaitu 1.120 motif yang berasal dari 22 kabupaten dan kota se-Jatim.

“Semoga buku batik karya UMM ini bisa menjadi sumber informasi dan inspirasi dalam menjaga kearifan lokal batik Jawa Timur,” terang istri Gubernur Jatim Soekarwo ini.

Rektor UMM, Muhadjir Effendy, menambahkan, batik sesungguhnya memiliki nilai keindahan visual serta kandungan filosifis yang dalam. Menariknya, kata Muhadjir, perbedaan latar sosial budaya memunculkan motif dan filosofi yang berbeda pula.

“Misalnya motif daerah pesisir yang coraknya berbeda dengan motif daerah pegunungan. Batik pesisir coraknya mengarah pada warna-warna tanah dan laut yang menggambarkan kehidupan pesisir, sedangkan batik pegunungan bercirikan motif tanaman yang tumbuh subur di daerah pegunungan, seperti cengkeh, kedelai, pisang, dan durian,” papar Muhadjir.

Dalam festival ini diadakan pentas seni budaya Tiongkok, pameran dan sarasehan batik, fashion show batik, serta lomba-lomba, di antaranya lomba mewarna batik khusus TK, lomba menggambar batik untuk SD, lomba desain batik bagi SMK, serta kreativitas dari bahan dasar batik bagi ibu-ibu PKK. Semua itu adalah upaya mengoptimalkan kreativitas pembatik dari semua khalayak.