Matangkan Rencana Kawasan Industri, Beberapa Desa di Kecamatan Jabung Dikaji

Ilustrasi industri. (Foto: Pemkab Malang)
Ilustrasi industri. (Foto: Pemkab Malang)

Jabung, MALANG DAILY ** Terdapat subuah sentral kawasan industri itulah yang diharapkan oleh berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Malang.

Kaitannya dengan sentralisasi kawasan industri Pemerintah Kabupaten Malang ingin mematangkan rencana menjadikan Kecamatan Jabung sebagai pusat industri. Yang terbaru, tim pengkaji saat ini juga sedang melakukan studi kelayakan dua desa lain di Jabung sebagai kawasan industry. Yakni, Desa Jabung dan Desa Slamparejo.

Dengan ada dua desa yang dikaji, secara otomatis ada tiga desa yang saat ini dalam proses kajian. Satu desa lainnya adalah Desa Sukolilo yang dari awal memang digadang-gadang akan dijadikan kawasan industri.

Pakar perencanaan wilayah dan kota Universitas Brawijaya (UB) Agus Dwi Wicaksono yang ditunjuk menjadi ketua tim feasibility study (studi kelayakan) menjelaskan, ada beberapa alasan yang membuat Desa Jabung dan Slamparejo masuk daftar kajian. Alasan paling mendasar karena di Sukolilo, lahan yang tersedia untuk industri tidak mencapai 200 hektare sebagaimana rencana awal. ”Hanya ada sekitar seratus hektare,”

Karena itulah, dua desa lain ini menjadi alternatif. Bisa jadi, nantinya tiga desa ini akan dijadikan kawasan industri yang integratif. ”Itu kemungkinannya, karena ketiganya tidak ada yang mencapai 200 hektare,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemkab Malang dalam rencana tata ruang wilayahnya, berniat membuat kawasan industri di Jabung. Desa Sukolilo menjadi pilihan karena dengan estimasi lahan untuk kawasan industri seluas 200 hektare. Lokasinya persis berada di pintu masuk Kecamatan Jabung. Di sebelah utara, ada hamparan luas lahan pertanian dan perkebunan kering yang bisa dimanfaatkan untuk kawasan industri.

Menurut ketua tim studi kelayakan Agus Dwi Wicaksono, dalam rencana detail tata ruang (RDTR), memang desa yang diproyeksi menjadi kawasan industri awal mulanya adalah Sukolilo. Hanya saja, jika dalam kesimpulan FS bisa berubah, RDTR ini menurut dia bisa direvisi. ”Setelah ada kajian ini.”

“Agus menambahkan, dalam kajiannya, kendala lain yang dia dapatkan di lapangan adalah dari tiga kawasan ini tidak ada desa yang jarak antara lahan yang akan dijadikan kawasan industry dengan rumah penduduk mencapai 2 kilometer. Tapi ini bisa disiasati. Apalagi kawasan industrinya prolingkungan, atau bisa masyarakat diberi konpensasi.”

Saat ini, timnya sedang mengebut proses studi kelayakan. Menurut perkiraannya, akhir Januari 2015 mendatang pengkajian ini akan rampung. Setelah itu, baru proses selanjutnya seperti pengkajian amdal dan lalin (dampak lingkungan dan lalu lintas).