Mahasiswa Perikanan Brawijaya Suguhkan Teknologi Ramah Lingkungan Penyelamatan Cumi-Cumi Pada Kompetisi I-Envex Malaysia 2016

Prototype ARTCHA.
Prototype ARTCHA.

Malang, MALANG DAILY ** Pandangan negara Internasional terhadap Indonesia dengan segudang potensi kelautan dan perikananya adalah sebuah kebenaran. Akan tetapi belum optimalnya system pengelolaan sumberdaya kelautan mengakibatkan eksplorasi habis-habisan pada salah satu sumberdaya. Salah satunya adalah Cumi-cumi. Hewan yang dikenal dengan daging lezat dan tentakelnya ini dari tahun ketahun semakin jarang ditemukan pada pusat-pusat pelabuhan perikanan di Indonesia. salah satu pemicunya adalah kerusakan alam dan ekspolarasi tidak berkelanjutan.

Berangkat dari hal tersebut. Tiga mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Brawijaya membuat sebuah prototype yang mereka namai ARTCHA (Artificial Atractor Chepalopoda). Teknologi yang  mereka claime pertama kali didunia ini selain ramah lingkungan juga akan menjadi rumah baru bagi Cumi-cumi mengingat kerusakan lingkungan utamanya laut yang tak bisa dibendung lagi.

ARTCHA menggunakan Basic Suistanaible Development Environment, yakni membuatkan sebuah rumah atraktor ramah lingkungan dimana Cumi-cumi dapat meletakan telurnya secara aman. Terbuat dari pipa PVC dan karung goni bekas, tak ayal jika ARTCHA disebut sebagai teknologi konservasi Cumi-cumi masa depan yang ramah lingkungan dan murah.

“ARTCHA memang kami peruntukan untuk seluruh masyarakat Indonesia. sangat efektif, murah dan ramah lingkungan. Harapan kami masyarakat dapat membuatnya sendiri dengan contoh prototype persis yang telah kita buat.” –tutur Imam Syafi’I. Mahasiswa FPIK UB angkatan 2013 asal Bojonegoro yang kebetulan juga menahkodai lembaga riset pada fakultasnya.

Pertama kali di uji coba di Lekok, Pasuruan, Jawa Timur selama kurang lebih empat bulan. Dari hasil uci coba tersebut dapat disimpulkan ARTCHA akan menjadi rumpon Cumi-cumi yang sangat diidolakan oleh para nelayan.

“Meskipun ARTCHA melalaui uci coba yang terbilang lama, kami menyadari masih ada beberapa kekurangan yang akan kita perbaiki kembali selepas kompetisi I-Envex di Perlis Malaysia 8-10 April besok.” –tutur M. Ridho Firdaus, mahasiswa semester empat jurusan Ilmu Kelautan FPIK UB. Kompetisi teknologi yang rutin diselenggarakan tiap tahun ini adalah kompetisi ilmiah internasional  yang akan mereka ikuti untuk pertama kali kecuali M. Aris Munandar. Kelompok yang beranggotakan tiga mahasiswa ini dialah yang paling senior. Aris didapuk menjadi mentor kedua juniornya dikarenakan sempat menyabet Silver Medal and Special Award from Ministry Of Education Thailand  pada kompetisi ITEX 2015 di Malaysia.

“Rasa-rasanya ini adalah beban moral kalau saya tidak bisa mengantarkan adik-adik saya lolos menjadi juara pada I-Envex April nanti. Jujur saya selalu menasehati ke mereka berdua (Imam dan Ridho) jangan berfikir pulang ke Indonesia membawa medali seperti saya dulu. Tujuan kita mengikuti kompetisi tersebut adalah mengenalkan pada dunia bahwa Indonesia tak kurang-kurangnya menyuplai sumberdaya manusia yang berkualitas. Prototype ini untuk masyarakat Indonesia. kita sebagai mahasiswa memang selayaknya mengabdi untuk masyarakat.” (ed) –tutur Aris saat MalangDaily wawancarai disela kesibukanya mengerjakan skripsi. Sabtu (19/03/2016)

Menggunakan produk-produk dalam negeri menjadi salah satu ungkapan rasa cinta tanah air. ARTCHA dengan keunggulan dan kekuranganya yang perlu diperbaiki perlu bantuan semua elemen masyarakat dan pemerintah demi terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan tetap mencanangkan sumberdaya yang berkelanjutan.