Hadir di Unisma, Menristekdikti Sampaikan Penerimaan Guru Besar Asing yang Diperketat

Menristekdikti Prof Mohamad Nasir. (Foto: Sekretariat Kabinet)
Menristekdikti Prof Mohamad Nasir. (Foto: Sekretariat Kabinet)

Lowokwaru, MALANGDAILY.COM ** Pada Rabu (19/10/2016), Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof Mohamad Nasir, menghadiri Pengecoran Pertama Gedung Bundar Al-Asy’ari Universitas Islam Malang (Unisma).

Menurutnya, Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan memperketat penerimaan guru besar asing di perguruan tinggi di Indonesia. Rencananya, Kemenristekdikti memang akan merekrut 500 guru besar asing.

“Setiap guru besar asing yang mau mengajar di Indonesia harus memenuhi berbagai persyaratan, seperti halnya publikasi jurnal internasional yang mempunyai kualitas baik, sudah meluluskan berapa program doktor, dan track record-nya seperti apa,” ujar Menteri Nasir, dirilis Humas Pemerintah Kota Malang.

Apabila perguruan tinggi memiliki banyak guru besar asing, lanjutnya, diharapkan dapat melahirkan mahasiswa serta calon pemimpin bangsa di masa mendatang yang mempunyai mutu serta kualitas kelas dunia.

“Namun, jika seorang calon guru besar asing tidak memenuhi salah satu persyaratan yang ditentukan maka akan gugur,” tegas mantan Rektor Universitas Diponegoro itu.

Selain berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah anggaran. Saat ini, kata Nasir, masih diadakan pendataan, dan nantinya calon-calon guru besar dari luar negeri itu akan diundang ke Indonesia.

“Begitu juga mengenai anggaran, masih diproses dan rencananya juga akan diajukan ke Kementerian Keuangan,” ungkapnya.

Dengan pengetatan penerimaan guru besar asing, dimaksudkan agar perguruan tinggi tidak seenaknya menerima tenaga pengajar asing, dengan tanpa memperhitungkan kinerja dan prestasinya.

“Menerima tenaga pengajar asing itu soal mudah. Tapi agar mendapat yang sesuai harapan, harus ada seleksi,” kata Nasir.

Bagi para mahasiswa, Menteri Nasir berharap, hendaknya jangan hanya bisa sekadar lulus. Mahasiswa yang sudah lulus atau menyelesaikan kuliahnya harus mempunyai kompetensi tinggi sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki.

“Kalau hanya ingin lulus, itu soal mudah. Tapi jika bicara tentang mutu dan kualitas, nanti dulu,” pungkasnya.