Rahmatika Pandu, Petani Kebun Hidroponik Inspiratif Asal Kota Batu yang Siap Mendunia

BERKEBUN – Rahmatika Pandu, petani kebun hidroponik yang optimis mendunia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Singosari, MALANGDAILY.COM ** Menjadi ahli dalam bidang studi tertentu, belum tentu akan membuat seseorang berkarier di bidang yang sama. Begitu juga sebaliknya. Seseorang belum mengambil sebuah bidang studi, namun memilih untuk berkarier dan menekuninya.

Entah mengapa, hal tersebut cukup lumrah ditemui di negeri ini. Salah satunya, bidang pertanian. Banyak para mahasiswa jurusan pertanian dan agribisnis yang seharusnya memiliki ilmu lebih untuk bisa mengembangkan pertanian, justru tidak berkarier di bidangnya dan mengambil karier di bidang lain sebagai pegawai bank, pegawai sebuah perusahaan swasta, PNS, yang tidak berhubungan dengan pertanian.

Pada 2017, ketika menjadi pembicara di salah satu Dies Natalis sebuah Perguruan Tinggi Negeri, Presiden Joko Widodo pernah mengungkapkan hal itu. Dan menurut data pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, generasi muda yang terjun ke pertanian terus menurun, bahkan tinggal 8 persen.

Melihat kekosongan ini, Rahmatika Pandu, seorang pemuda kelahiran Kota Malang, berinisiatif untuk mengambil peluang dan membangun sebuah kebun hidroponik yang diberi nama ‘Harvest Queen’.

Kebun kreasi Pandu terletak di Kota Batu. Bila berkendara dari Kota Malang, Anda dapat menuju Alun-alun Batu. Sebelum alun-alun, saat menjumpai Masjid At-Taqwa, berbeloklah ke arah kanan, melalui Jalan Arjuno, lalu lurus saja ke arah kantor Badan Narkotika Nasional (BNN). Harvest Queen berdiri di depan gedung tersebut.

Siapa sangka, sebelum terjun menekuni hidroponik, Pandu merupakan mahasiswa lulusan S1 Arsitek Universitas Brawijaya. Tidak berhenti sampai di situ, pria yang memiliki passion belajar dan berjualan itu menambah wawasannya dengan kuliah S2 berbeasiswa di Ilmu Politik di Chulalongkorn University, Bangkok. Setelah dua tahun berhasil menyelesaikan studi, ia kembali mendapat beasiswa kuliah Hubungan International di Sogang University dan Seoul National University, yang sama-sama terletak di Kota Seoul, Korea Selatan.

Jangan Takut Jadi Petani!

Dunia perkebunan tidak asing bagi Pandu, karena ia terlahir dari keluarga yang memiliki perkebunan dan perusahaan kopi di Dampit, Malang, secara turun-temurun, sejak kakek buyutnya.

“Kakekku petani kopi. Itu mulai dari kakek buyutku. Kakek buyutku itu salah satu orang pribumi yang bisa punya kebun. Jadi, dulu orang pribumi, budak waktu zaman belanda, tapi beliau bisa punya kebun. Tidak tahu caranya bagaimana. Akhirnya turun-temurun sampai sekarang. Kebunnya ada di Dampit, jual kopi diekspor,” ceritanya.

Meskipun begitu, Pandu tidak ingin masuk ke dalamnya. Ia lebih memilih mandiri dan membangun perkebunannya sendiri dari nol.

“Kalau mengurusi perusahaan keluarga itu ribet. Banyak saudara-saudara. Aku enggak mau mengurusi perusahaan keluarga. Aku penginnya buat perusahaan sendiri. Meskipun kecil, suatu saat kan jadi besar,” tandasnya.

Banyak orang mengira bahwa berkarier di bidang pertanian, khusunya menjadi seorang petani, bukanlah pilihan menjanjikan untuk masa depan. Sebagian besar dibayangi masalah perekonomian yang  mengimpit kehidupan para petani. Wajar bila saat ini, banyak pemuda bangsa yang menghindari karier di bidang pertanian, bahkan para lulusan pertanian dan agribisnis sekalipun.

Menurut Pandu, pandangan itu kurang tepat. Baginya, berkarier menjadi petani di Indonesia adalah sebuah masa depan, dan bukan merupakah kesalahan. Pasalnya, pangan dari hasil pertanian selalu dibutuhkan dan berjangka panjang. Maka dari itu, tidak ada alasan bagi petani untuk tidak berhasil.

“Jangan takut jadi petani!” ujar Pandu tanpa ragu.

“Tidak ada alasan (bagi) kita (untuk) tidak berhasil menjadi petani, karena orang-orang masih makan sayur, buah, dan lainnya. Cuma kamu mau atau tidak mengawali untuk menjalankanya. Itu saja,” ucapnya meyakinkan.

Ia menerangkan, menjalankan bisnis di bidang pertanian secara profesional dan membangun sistem kerja modern adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghapus momok permasalahan ekonomi yang melekat pada diri petani.

“Melakukan bisnis pertanian dengan profesional serta modern, kamu bisa berhasil juga. Tidak selalu seperti petani yang biasanya. Itu karena mereka tidak mengerti ilmunya. Tidak mengerti ilmu marketing, tidak mengerti ilmu branding, tidak mengerti bisnis menejemen, dan lain-lain,” tutur Pandu.

“Seandainya kamu bisa melakukannya dengan kreativitas, pasti kamu berhasil lah. Lha wong orang butuh makan, kok. Kecuali orang sudah tidak makan padi lagi, tidak makan wortel lagi; mungkin petani-petani rugi. Tapi kan orang-orang masih makan itu,” tambahnya dengan bersemangat.

Selain itu, Pandu merasa, dunia pertanian sangat membutuhkan terobosan-terobosan baru yang kreatif dan inovatif dari sentuhan kaum muda. Namun kenyataannya, tidak banyak anak muda yang mau menggarap bidang pertanian.

“Banyak para petani yang sudah tidak muda lagi, kurang kreatif, dan tidak ada terobosan. Padahal, kalau kita melihat dunia pertanian saat ini kan perlu terobosan-terobosan. Jadi kan anak muda seharusnya banyak yang ke pertanian. Ya kita lihatnya, banyak lulusan pertanian yang enggak masuk ke dunia pertanian. Kerjanya di bank, gitu-gitu, lah. Jadi kan enggak ada anak muda yang garap (pertanian),” jelas Pandu.

Melihat permasalahan-permasalahan tersebut, Pandu lantas mengambil langkah untuk memperbarui dunia pertanian dengan berupaya mengembangkan kreativitas dan inovasi lebih modern, lebih sehat, dan memiliki terobosan baru dari segi praktis dan bisnis.

Healthy Life Style

Kebun Hidroponik Harvest Queen didirikan Rahmatika Pandu tak lama setelah dia menyelesaikan kuliahnya di Seoul bersama rekannya sejak kuliah di Arsitek UB, yaitu Ilman, yang ketika itu, juga baru saja menyelesaikan studi S2-nya di Italia.

Nama Harvest Queen diambil dari nama Dewi Sri, yang dipercaya masyarakat Jawa dan Bali sebagai Dewi Padi, penyebab kesuburan. Kemurahan Dewi Sri dipercaya menjadikan Jawa sebagai pulau padi ternama.

“Harvest Queen kita ambil dari nama Dewi Kesuburan dan Dewi Beras yang ada di kebudayaan masyarakat Jawa dan Bali, yaitu Dewi Sri. Tapi kalau memakai nama itu, kurang terdengar modern maka kita cari Bahasa Inggris-nya, yaitu Harvest Queen. Bagi kita, itu bermakna Dewi Sri,” kisah Pandu.

PANEN – Rahmatika Pandu (ketiga dari kiri) saat panen sayuran bersama pengunjung Harvest Queen. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Didirikan Desember 2016, Harvest Queen memiliki tantangannya sendiri, terutama di pemasaran, ketika awal-awal panen. Pemasaran melalui online dilakukan, namun ternyata, pasar belum siap. Akhirnya, Harvest Queen mencoba masuk pasar yang lebih tradisional, yaitu dengan masuk pasar retail modern di Malang dan Surabaya, serta mengantarkannya ke rumah-rumah, menyuplai rumah makan, dan lainnya.

“Awalnya, jelas susah. Soalnya, bisnis baru. Jadi, kita mengantar sayur ke rumah orang. Awal-awalnya ya pasti rugi. Tapi lama-lama paham, terus sadar. Kalau dianterkan sayur ke rumah, mereka senang. Lama-lama, permintaannya tinggi,” kata Pandu.

Kesulitan paling utama, sambungnya, marketing, yakni siapa yang mau membeli sayurnya. Sebab, Harvest Queen belum dikenal.

“Akhirnya kita harus memikirkan ke pasar yang lebih tradisional, ke pasar retail modern. Mereka membantu kita, karena kalau sayur masuk retail modern artinya bagus barangnya. Supermarket enggak sembarangan memasukan barang. Lha itu membantu image Harvest Queen,” paparnya.

Setelah satu tahun berjalan, Harvest Queen mulai menampakkan keunggulannya. Respons positif terus berdatangan dari para pelanggan dan muncul tantangan baru, yaitu permintaan yang semakin tinggi. Sementara kapasitas produksi masih kurang mencukupi.

Untuk jangka waktu ke depan, Harvest Queen tidak hanya berhenti di kebun hidroponik, namun mulai membangun konsep, menjadi perusahaan healthy life style yang mengampanyekan hidup sehat, dengan menyediakan makanan sehat dari kebun sehat.

“Konsepnya Harvest Queen sebenarnya ingin menjadi perusahaan healthy life style. Nah, batu pijak pertamanya membikin kebun dan menyediakan sayur yang sehat. Perusahaan healthy life style bisa ke mana-mana. Nanti, misalnya, kita bisa melebarkan sayap ke healthy entertaintment. Contoh, gym. Pokoknya, healthy yang kita campaign; hidup sehat. Kalau sekarang, ya jual sayuran dulu, tapi sebenarnya bukan itu,” beber Pandu optimis.

Maka dari itu, saat ini, mereka berupaya keras membangun sistem pertanian modern, tidak menggunakan media tanah, tidak boleh disemprot pestisida beracun, dan melakukan tes laboratorium untuk melihat kelayakan hasil kebun sayur dan buahnya.

“Sistemnya harus modern, yang pasti. Enggak boleh media tanah. Karena, kalau media tanah, ada cacingnya. Segalanya ada di situ. Enggak meyakinkan kan, itu sehat atau tidak. Terus, tidak boleh disemprot dengan pestisida beracun. Terus harus dimasukkan ke dalam laboratorium, supaya diketahui isi sayurnya apa. Jadi, hidroponik dan organik. Organik dalam tanda petik ‘Bukan tidak ada sama sekali bahan kimianya, tapi tidak membahayakan bagi kesehatan manusia,” terangnya.

Ilmu dan Wawasan Bisa Diterapkan

Berkarier bukan pada bidang studi yang diambil ketika kuliah, bukan berarti ilmu yang didapat tidak berguna. Pandu justru memiliki pandangan, ilmu yang ia dapat saat kuliah dulu, saat dapat diterapkan untuk mengembangkan Harvest Queen.

“Arsitek itu kan keilmuan dasarnya desain. Artinya, bisa diterapkan di mana pun; bisa membuat sesuatu menjadi bagus. Intinya, itu. Orang tahunya (arsitek mendesain) rumah. Padahal, arsitek bisa pula menggarap lainnya, seperti undangan pernikahan dan dekorasi panggung,” kata Pandu.

Menangani Harvest Queen, keilmuan arsitektur Pandu berguna untuk mendesain packaging-nya, juga mendesain Instagram-nya.

“Kalau nanti kita buat wisata, arsitektur wisatanya yang bagus. Kalau kita punya kafe juga bikin yang bagus. Jadi, sebenarnya, ilmu (kuliah) masih dipakai, tapi tidak di bidang konstruksi dan bangunan,” Pandu menjelaskan.

Selain arsitektur, Pandu memiliki ilmu di bidang ilmu politik dan hubungan internasional. Menurutnya, ilmu yang ia dapat bukan sekadar dari kampus, namun juga di luar kampus. Ilmu yang ia dapat berguna untuk mengembangkan Harvest Queen.

“Ilmu politik memang enggak ada hubungannya dengan sayur. Kalau di politik, lebih karena aku belajar belajar di luar negeri. Jadi, banyak ide dari luar negeri. Berhubungan dengan orang dari budaya lain, memperkaya wawasan. Itu berguna juga di bisnis,” paparnya.

Untuk menambah ilmu dan wawasannya, Pandu bersama Harvest Queen memenangi beasiswa leadership di Jepang dari Honda  bersama 10 peserta dari negara ASEAN lain, selama 70 hari dan akan berangkat 12 Mei 2018. Selain itu, Pandu tengah mengajukan beasiswa Australian Awards Scholarship (AAS) untuk studi agribisnis.

Lebih dari itu, Pandu memiliki cita-cita menjadi petani yang dapat menginspirasi anak-anak muda. Dia berharap agar banyak anak muda yang mau terjun ke bidang pertanian, karena dengan banyaknya pemuda yang terjun, pertanian Indonesia diharapkan lebih berkembang dan maju. Ia berharap agar petani-petani bisa berubah lebih modern, dengan mengelola tanaman lebih sehat dan lebih bersih.

“Jika anak-anak muda banyak terjun bertani maka pertanian di Indonesia akan lebih maju. (Sekali lagi), Jangan Takut Bertani!” pungkasnya.