Berawal dari Limbah, Beromzet Puluhan Juta Rupiah

Retno Hastuti dan suami mengembangkan usaha kerajinan GS4 Woodcraft dengan memanfaatkan limbah kayu pinus. (Foto: gs4woodcraft/instagram)

Malang – Setiap kesuksesan membutuhkan perjuangan. Sukses bukan hal yang bisa diraih secara instan, melainkan melalui proses. Itulah prinsip yang selalu dipegang Retno Hastuti dalam menjalankan usahanya. Ketekunan, ketelatenan, dan terus berinovasi baginya merupakan kunci meraih kesuksesan.

Berawal di tahun 1992, Retno (58) dan suami mulai merintis usahanya dengan kerajinan berbahan dasar kayu pinus. Bersama sang suami, Hery (61) yang berlatar belakang sebagai arsitektur, Retno merajut usaha kerajinan berjuluk GS4 Woodcraft. GS4 sendiri merupakan akronim dari alamat tempat usaha mereka dari masa ke masa, yaitu Jalan Gondosuli nomor 4.

“Kebetulan suami saya pintar mendesain, saya bagian produksi. Jadilah usaha kami pelan namun berjalan penuh kepastian,” ungkapnya.

Alumnus Universitas Brawijaya ini awalnya hanya bermodalkan limbah kayu pinus dari pabrik seorang teman, yang memproduksi lemari dan perabotan lainnya. Kala itu alat-alat pendukung kerajinan seperti mesin pemotong kayu pun masih meminjam dari temannya. Namun, seperti kata pepatah Jawa “Alon-alon asal kelakon”, Retno dan suami akhirnya mampu memiliki peralatannya sendiri berkat usaha keras mereka.

Retno juga sempat menjadi mitra binaan dari salah satu bank dan mengajukan pinjaman Rp 10 juta untuk ekspansi bisnisnya. Dari situlah ia mendapatkan program pelatihan tentang manajemen pemasaran, menyusun laporan keuangan atau pembukuan, dan segabainya. Dari bantuan tangan suaminya, tempat usahanya bisa memproduksi berbagai macam kerajinan bernilai jual tinggi, seperti perabot rumah tangga, souvenir pernikahan, dan mainan anak-anak.

“Awalnya kami membuat tempat pisau. Lalu di tahun itu di Malang lagi booming hiasan-hiasan dinding, kami pun membuatnya, menyesuaikan dengan kayu yang ada. Kemudian ada tempat tisu. Itu produk-produk awal kami,” terang Retno.

Usaha ini dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang baik. Varian produk pun berkembang. Dalam sebulan, kini mereka bisa memproduksi aksesori atau peralatan rumah tangga nonrakita 1.000 buah, sementara produk rakitan minimal 500 buah per bulannya, dengan harga mulai dari Rp 10 ribu hingga jutaan rupiah.

Dalam hal pemasaran, dirinya hanya mengandalkan media sosial dan pameran. Retno mengaku sempat kewalahan dalam menerima permintaan dari berbagai daerah. “Karena kami waktu itu belum berpengalaman, kami ketetran saat permintaan membludak sampai 60 ribu pack produk kerajinan kayu pinus,” akunya.

Nyaris Gulung Tikar

Sebagaimana bisnis pada umumnya, usaha mereka pun tak selalu berjalan mulus. Retno dan suami pernah memiliki pengalaman pahit saat Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1998. Usaha kerajinan kayu pinusnya nyaris gulung tikar. Namun, siapa sangka, mereka bisa terbebas dari jerat kepahitan itu, dan usahanya makin lama makin mengalami peningkatan.

“Dulu kami pernah hampir kolaps karena harga bahan baku seperti cat mengalami flukstuasi tidak menentu, sementara orderan sudah pada harga yang ditetapkan. Akhirnya perlahan mulai bangkit dan karena sudah belajar dari masa lalu, sekarang saat kondisi ekonomi sedang susah, kami tetap aman. Tidak ada pengaruh, malah penjualan meningkat,” imbuh Retno.

Kini, permintaan hasil produksinya semakin meluas dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Aceh, Bontang, sampai daerah Timur Indonesia. Bahkan sudah diekspor ke Jamaica dan Singapura. Dalam sebulan, pasangan suami istri ini bisa mendongkrak omzet sekira Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Namun saat musim pernikahan, penghasilan bisa lebih dari itu. Keuntungan bersih bisa mereka dapatkan sebesar 25-50 persen dari omzet.

Harapan Retno tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisnis yang ditekuninya terus berjalan sehingga bisa dinikmati anak-cucunya. Dan kini, usaha tersebut diturunkan kepada putri mereka, Rachmania Nur Dwitiyastuti (29).