Mahasiswa UMM Ciptakan Media Belajar Matematika Lewat Budaya

Tampilan software Mantri Caino, inovasi baru media belajar matematika. (Foto: Humas UMM)

Malang – Matematika bagi sebagian siswa dianggap sebagai momok lantaran sulit dan menyebalkan. Padahal mata pelajaran ini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama ilmu sains dan teknologi. Namun, stigma menakutkan itu berhasil dipatahkan oleh tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Mereka adalah Riska Nur Rohmah, Westi Ayu Maulida Permata, dan Dimas Galih Dwi Pangasta, yang berhasil menciptakan inovasi pembelajaran matematika dalam rangka penyusunan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riska dan kedua kawannya menginisiasi media pembelajaran interaktif berbasis software komputer menggunakan metode Computer Assisted Instruction (CAI) untuk media pembelajaran tersebut dan diberi nama Mantri Caino.

“Nama Mantri Caino sendiri berasal dari kata Mantri yang artinya mengobati, maksudnya adalah untuk mengatasi krisis pengetahuan budaya di Indonesia. Caino diambil dari metode CAI dan dari kata etno,” jelas Riska.

Konten Mantri Caino beragam, mulai dari kompetensi inti, kompetensi dasar, dan tersedia pula indikator pencapaian. Selain itu, Mantri Caino juga dilengkapi dengan petunjuk penggunaan untuk mempermudah para siswa. Riska dan kawan-kawan juga menerapkan kurikulum 2013 pada media ini.

“Media pembelajaran ini ditujukan untuk siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama,” imbuh Riska.

Fitur Berbasis Etnomatematika

Di samping itu, terdapat pula fitur drill and practice berbasis etnomatematika yang bisa membantu siswa mempelajari dan lebih memahami konsep materi melalui budaya lokal dan nasional seperti menampilkan budaya, adat, dan sejarah Indonesia.

Dimas melengkapi, melalui fitur ini, ia dan kawan-kawannya ingin berusaha menghilangkan stigma buruk tentang matematika. Untuk itu mereka juga menyematkan game sebagai salah satu konten pada Mantri Caino. Inovasi yang diciptakan bersama ini sudah pernah diujicobakan kepada siswa yang mengikuti program bimbingan belajar.

“Mereka senang dan merasa lebih mudah memahami matematika. Di samping itu, mereka juga bisa memperluas wawasan umum seperti sejarah dan kebudayaan,” ujar Dimas.

Mereka berharap, inovasi ini bisa memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi dunia pendidikan, terutama untuk mata pelajaran matematika yang selama ini dinilai sulit dan selalui dihindari oleh sebagian orang. Selain itu juga diharapkan dapat memperoleh sambutan baik dari berbagai pihak.

“Kami berharap mendapatkan respon positif dari masyarakat, serta lolos dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, ” imbuh Dimas.