Polowijen : Kampung Tua dari Era Kendedes Hingga Menjadi Kampung Tematik Budaya Polowijen

KBP : Festival Kampung Budaya Polowijen 2 (Foto : kampungbudayapolowijen.us)

Singosari, MALANGDAILY.COM ** Kota Malang merupakan salah satu kota pariwisata terkemuka di Jawa Timur. Kota ini memiliki luas sebesar 110.06 Km² (BPS). Pariwisata itu sendiri terbagi-bagi menjadi beberapa bagian seperti pariwisata alam, pariwisata untuk hiburan, pariwisata berbasis budaya, pariwisata sejarah dan banyak jenis-jenis pariwisata lainnya.

Salah satu pariwisata budaya yang ada di Kota Malang adalah Kampung Budaya Polowijen yang digagas oleh Isa Wahyudi. Kampung Budaya ini terletak di RW 02 Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang dan telah diresmikan oleh Walikota Malang pada tanggal 2 April 2016.

Kampung Budaya Polowijen saat ini berusaha menghidupkan kembali budaya polowijen asli sebagai peninggalan leluhur terdahulunya seperti membatik, tari topeng, pembuatan topeng, serta pelestarian budaya dan situs asli Polowijen seperti Sumur Windu yang merupakan tempat pemandian Ken Dedes, Situs Makam Mbah Reni yang merupakan orang pertama pembuat topeng malangan, Makam Eyang Jibris sebagai pemuka agama Islam dan cagar budaya lainnya.

Sejarah Kampung Polowijen

Asal muasal Polowijen, menurut Buku Pararaton yang ditulis oleh Drs. R. Pitono Hardjowardojo, adalah daerah asal dari Ken Dedes (Permaisuri kerajaan Singhasari) yang dahulu kala bernama Panawijen. Polowijen juga disebutkan dalam “Prasasti Wurandungan B” pada jaman Mpu Sindok yang dicatat oleh Brandes dengan angka tahun 865 Saka (943 M). Dalam naskah Pararaton, Panawijen dikenal dengan tempat sucinya sejak tahun 948 M sampai Mpu Purwa (Ayah Ken Dedes) tinggal di Panawijen sekitar tahun 1180-an hingga Majapahit berakhir.

Di Panawijen ini juga terdapat salah satu situs bernama Sumur Windu atau biasa disebut juga dengan Petilasan Ken Dedes. Dari beberapa sumber, perkembangan desa selanjutnya tidak banyak diketahui, hingga datanglah seorang sosok pembuka hutan/bedah krawang yakni Eyang Jibris dari Demak dan sekaligus berperan menyebarkan agama Islam di Polowijen. Pada awalnya pemimpin di Polowijen dikenal istilah Petinggi, kemudian Kepala Desa dan selanjutnya Lurah sejak perubahan bentuk pemerintahan Desa menjadi Kelurahan pada tahun 1985.

Seiring berjalannya waktu, Desa Polowijen pernah mencuat sebagai daerah yang terkenal dengan seni kriya dan seni tarinya pada jaman penjajahan Belanda tahun 1900-an. Pada tahun 1900 – 1940-an, Polowijen terkenal dengan seni tradisional tari topengnya. Pada masa itu munculah sosok pengrajin dan penari Topeng Malangan terkenal yakni Reni sehingga Polowijen terkenal dengan sebutan Desa Reni. Mbah Reni adalah seorang petani kaya yang tinggal di Polowijen dan memimpin salah satu rombongan wayang topeng terbaik pada masanya. Mbah Reni wafat pada 1935 dan dimakamkan di Polowijen.

Aktifitas Kampung Budaya Polowijen

Saat ini, Kampung Budaya Polowijen ditujukan untuk membangkitkan ekonomi kreatif masyarakatnya melalui sentra-sentra industri kreatif seperti kerajinan topeng, aneka gerabah, seni pahat, seni pertunjukan, dan lainnya, disamping untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya setempat. Kemudian dalam upaya pelestarian budaya secara nyata, Walikota Malang juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Sanggar Tari / Gedung Kendedes sebagai sarana dan pelatihan menari bagi warga Polowijen.

Selain itu, pengelola juga meyediakan fasilitas bagi pengunjung yang tertarik dan ingin belajar kesenian, misalnya fasilitas belajar membatik, fasilitas belajar membuat kerajinan gerabah dan pahat di mana warga atau masyarakat dapat langsung belajar apabila tertarik untuk mempelajarinya.

Pengunjung juga dapat belajar tentang tari Topeng Malangan langsung dari penarinya dengan berkunjung ke kediamannya. Salah satunya adalah Mbah Kari. Beliau akan menceritakan mengenai sejarah Topeng Malangan di Malang dan informasi lain seputar kesenian tersebut.

Selain pelestarian seni membatik, pahat dan tari, Kampung Budaya Polowijen juga memberikan perhatian pada dunia literasi. Untuk meningkatkan minat baca warga di Kampung Budaya Polowijen, serta dalam upaya untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan masyarakat, Kampung Budaya Polowijen merealisasikannya dalam bentuk menghadirkan Perpustakaan di Kampung Budaya Polowijen atas bantuan keluarga besar Universitas Widya Gama yang menyumbangkan buku lebih dari 1.100 buah, dan perpustakaan ini telah diresmikan pula oleh Wakil Walikota Malang pada tanggal 10 Juni tahun 2017.

Dengan adanya Perpustakaan tersebut diharapkan  akan diikuti oleh kampung-kampung lainnya di Kota Malang, sehingga budaya literasi dan pengetahuan yang di dapat akan semakin meningkat, dan kelak pasti memberikan manfaat bagi masyarakat di dalamnya.