Solusi : Smart Tongkang Karya Mahasiswa UMM Atasi Produksi Garam Kualitas Rendah

TIM UMM : Haryo Widya Darman, Zehandana Khatami dan Annisa Widya Nurmalitasari (Foto: Humas UMM)

Singosari, MALANGDAILYCOM ** Baru-baru ini mahasiswa UMM merancang sebuah alat bernama Smart Tongkang, yakni mesin pembuat garam berkualitas. Mahasiswa-mahasiswa tersebut adalah Haryo Widya Darman, Zehandana Khatami dan Annisa Widya Nurmalitasari. Mereka membuat mesin tersebut dikarenakan fenomena yang sedang terjadi di dalam negeri, yakni impor garam dari negara lain di saat sebenarnya Indonesia merupakan salah satu pemilik garis pantai di dunia dimana sebenarnya bisa menghasilkan garam dengan jumlah yang banyak.

Garam merupakan jenis komoditas yang jumlahnya tidak terbatas dan merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui. Indonesia memiliki garis pantai yang panjang dan beriklim tropis sehingga berpotensi besar untuk menghasilkan garam. Kebutuhan garam domestik dan dunia terus meningkat, namun Indonesia tidak mampu menghasilkan garam untuk dalam negeri sehingga mengakibatkan dilakukannya impor garam oleh pemerintah.

Impor garam dilakukan dengan alasan karena produksi garam lokal tidak memenuhi kebutuhan baik untuk industri maupun kebutuhan pangan. Untuk menutupi kekurangan itu maka dilakukanlah impor garam dari luar negeri. Pada tahun 2018 impor garam Indonesia mencapai 3,7 juta ton dengan nilai 83,6 juta USD, dan 2019 impor garam dialokasikan 2,7 juta ton.

“Artinya negara mengeluarkan Rp1,34 Triliun untuk impor garam. Dengan biaya impor sebesar itu, sementara petani garam jauh dari kata sejahtera,” ungkap Haryo Widya Darman, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang saat menerangkan proposal yang diajukannya di ajang Rancang Bangun Mesin IX seperti yang dirilis Humas UMM.

Dia pun menambahkan bahwa ada faktor-faktor yang menyebabkan kualitas garam lokal kurang diminati industri.

“Kurangnya pendampingan dari ahli dan eksploitasi tradisional yang kurang maksimal punya beberapa kekurangan, seperti kepemilikan lahan terbatas, sangat tergantung pada cuaca dan efisiensi produksi yang rendah, menjadikan kualitas garam lokal kurang diminati industri,” Tambahnya.

Menurut Haryo, diperlukan solusi berupa penambahan lahan terapung yang fleksibel sehingga dapat membuat percepatan produksi garam yang sesuai dengan standar dan layak. Selain itu untuk mengurangi biaya transport dan operasional truk, lahan ini bisa dipindah-pindahkan dan didekatkan ke pabrik.

“Solusi berupa penambahan lahan terapung menjadi masuk akal, karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik. Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” terangnya saat menjelaskan apa itu Tongkang Garam.

Konsep tongkang yang dibuat oleh Haryo dan tim dilengkapi dengan atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor. Hal ini membuat tongkang mudah dipindahkan. Selain itu, diperlukan juga teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya.

Mereka berharap rancangan tongkang seperti ini dapat menyelesaikan permasalahan keterbatasan lahan sebab proses kristalisasi dapat dilakukan di atas laut. Selain itu kualitas garam seperti warna, kebersihan, penurunan kadar air dapat ditingkatkan. Karena rekayasa mekatronika ini, percepatan produksi juga meningkat, yang semula 15 hari dapat menjadi 8-10 hari.

 “Yang artinya produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi. Harapannya solusi ini akan menjadi penyebab berhentinya impor garam yang dilakukan pemerintah. Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Haryo yang juga ketua tim UMM. Dirilis Humas UMM.