Syarif Oemar Said: Masyarakat Peduli Arsip Sejarah Malang

APRESIASI : Syarif Oemar Said Ketika Menerima Penghargaan dari Walikota, Drs. H. Sutiaji (Foto : Humas Pemkot Malang)

Singosari, MALANGDAILYCOM ** Syarif Oemar Said, seorang kolektor naskah-naskah kuno dan berbagai hal tentang Kota Malang mendapat apresiasi berupa penghargaan dari Pemerintah Kota Malang sebagai Masyarakat Peduli Arsip Sejarah.

Sejak kecil ia sudah sangat mencintai buku-buku dan berbagai pernik tentang sejarah, termasuk dokumen/naskah kuno khususnya tentang Kota Malang karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang spesial dari dokumen-dokumen kuno tersebut.

Penghargaan untuk Syarif langsung diserahkan oleh Drs. H. Sutiaji sebagai Walikota Malang pada saat Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 Senin (28/10/2019) lalu di halaman depan Balai Kota Malang.

“Saya tidak menyangka dari kesenangan terhadap naskah-naskah kuno bisa menjadi sumber kehidupan. Alhamdulillah, hari ini mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Malang,” ujar Syarif warga Jl. Pajajaran No. 11 Malang seperti dirilis Humas Pemkot Malang.

Untuk kedepannya Syarif memiliki keinginan yang tinggi untuk terus mengembangkan kecintaannya terhadap buku-buku dan naskah kuno. Ia juga ingin membuat tempat yang layak dan baik untuk menyimpan koleksi buku dan naskah-naskah kunonya tersebut agar lebih aman.

Hal tersebut dikarenakan koleksi-koleksinyanya butuh perawatan ekstra dan membutuhkan ketelatenan serta ketelitian dalam menjaganya tetap bisa dibaca karena usianya yang sudah sangat tua. Selain itu banyak juga orang yang sengaja datang untuk belajar mencari literatur dan naskah kuno untuk dipelajari.

“Selama ini banyak orang belajar ke tempat kami mencari literatur dan naskah kuno. Kalau tempatnya bisa diperbaiki tentu akan bisa lebih banyak manfaatnya,” harap Syarif.

Adapun koleksi yang dimiliki Syarif adalah buku-buku kuno berbahasa belanda, buku telepon dalam bahasa belanda dan indonesia, peta-peta kota, blue print tugu malang, koran-koran di malang zaman dulu, gambar tugu malang atau alun-alun bundar depan balai kota, selembar kertas berisi rangkaian acara peletakan batu pertama tugu malang pada 17 agustus 1946, majalah iklan promo tentang Malang, dan masih banyak lagi.

Dari koleksi-koleksinya tersebut ada 1 buku kecil yang membutnya terkesan yaitu buku Pouw Kioe An yang berjudul “198 Hari Dalam Koengkoengan Kempeitai” yang terbit pada 1947 karena menurutnya ada cerita unik tentang buku mengenai wartawan Tionghoa di malang tersebut.