Pemkot Malang Perluas Ruang Terbuka Hijau

Suasana di Jl. Dempo menjadi dalah satu ruang terbuka hijau di Kota Malang. (Foto: Instagram @dickynisme)

Malang – Pemerintah Kota Malang melakukan perluasan terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH). Hal ini karena RTH di Kota Malang belum mencukupi 20% sebagaimana ditetapkan dalam peraturan pemerintah.

Sejauh ini, RTH di Kota Malang hanya 5% dari total luas lahan, sehingga berbagai upaya akan dilakukan guna menambah kawasan RTH. Upaya Pemkot Malang untuk memperluas RTH yaitu mengamankan aset tanah milik Pemkot Malang.

“Dalam konteks ini masih ada sejumlah tanah aset pemkot (Malang) yang kepemilikannya masih abu-abu atau terindikasi dimiliki pihak lain. Maka dari itu kami akan mengurus dan menyelesaikan hal-hal seperti itu,” jelas Sekretaris Daerah Kota Malang, Wasto, Rabu (12/02/2020).

Sensus pohon ini, jelasnya, akan dimulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan agar hasilnya juga maksimal.

“Pohon yang ditanam pun kami sarankan juga yang membawa manfaat lebih bagi masyarakat sekitar, seperti pohon mangga dan jeruk. Dengan demikian tak hanya kebutuhan udara segar yang akan terpenuhi tapi saat pohon berbuah dapat dinikmati hasilnya,” paparnya.

Fungsi Ruang Terbuka Hijau

Perkembangan dan pembangunan kota yang pesat selalu menimbulkan dampak berupa masalah lingkungan. Hal ini ditambah dengan semakin hilangnya ruang-ruang terbuka hijau kota sebagai akibat tingginya permintaan akan kebutuhan lahan.

Menurut Wasto, pihaknya juga memprogramkan sensus pohon dan jika melihat jumlah penduduk Kota Malang, setidaknya untuk satu pohon dapat memenuhi kebutuhan oksigen untuk dua orang.

“Berdasarkan hitungan kasar, setidaknya Kota Malang memiliki 650 ribu pohon agar udara di kota ini sehat,” urainya.

Di Kota Malang, ruang terbuka hijau publik salah satunya diwujudkan dalam bentuk taman,alun-alun dan median jalan. Ruang-ruang terbuka hijau publik yang disediakan seharusnya mampu mewadahi fungsi ekologis, estetis, dan sosial bahkan ekonomi. Namun terdapat ruang terbuka hijau publik yang ada tidak digunakan masyarakat dan tidak memenuhi fungsinya.

Disisi lain, Wasto menerangkan jika gerakan menanam pohon akan terus digenjot dan digalakkan, terutama di kawasan yang minim pohon seperti di area perkantoran, lembaga pendidikan dan daerah pelayanan publik lainnya.

“Ini menjadi tanggung jawab semua pihak, sehingga setiap warga masyarakat hendaknya memiliki kesadaran tinggi akan hal tersebut,” imbaunya.

Add Comment